back to list

back to list

Profile

Profile

Profile

Frans Kesuma

Frans Kesuma

Frans Kesuma

Presiden Direktur PT United Tractors Tbk

Presiden Direktur PT United Tractors Tbk

Presiden Direktur PT United Tractors Tbk

Pada lapis permukaan, Frans Xaverius Laksana Kesuma tampak pas sebagai pemuka gereja atau ahli teologi. Parasnya—dengan warna rambut serupa cecabang pinus dalam balutan salju Desember—memacakkan ketenangan seorang pencari jalan spiritual. 

Lebih ke kedalaman, dia terampil memainkan senar gitar. “Beliau dapat memainkan gitar klasik maupun elektrik, dengan genre musik yang pernah saya tahu didengarkan beliau adalah jazz, classic rock, folk, pop akustik”—dan bahkan progressive rock, tulis Sara Kirsti Loebis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk., dalam surat elektronik kepada Fortune Indonesia. Di antara grup favorit Frans adalah Electric Light Orchestra, yang kesohor dengan tembang Mr. Blue Sky, serta The Alan Parsons Project dengan nomor Eye in the Sky dan Time.

Pun demikian, Frans Kesuma—begitu arek Suroboyo kelahiran 1962 itu dikenal—tentu bukan sebatas pemetik gitar atau pemanjat tebing. Ia pasti unggul sebagai pemimpin karena menjadi nakhoda salah satu kontraktor penambangan terbesar dunia, atau distributor peralatan berat terkemuka di Indonesia. Apalagi, dia telah menjadi Presiden Direktur PT Pamapersada Nusantara (PAMA) sejak 2013 dan Presiden Direktur PT United Tractors Tbk. sejak 2019. 

Kebetulan, ketika posisi puncak itu dia tempati, industri yang menaungi perseroan sedang menghadapi—atau bahkan menyongsong—krisis. Sungguh suatu momentum prima untuk menguji mutu kepemimpinan. Seperti banyak perusahaan lain, United Tractors (UT) kesulitan mengungguli daya usik virus corona yang tinggi.

Pada 2020, perusahaan menangguk pendapatan bersih Rp60,3 triliun, turun 29 persen dari Rp84,4 triliun pada 2019. Dari jumlah itu, tiga besar teratas penyumbangnya adalah kontraktor penambangan (48 persen), mesin konstruksi (22 persen), dan pertambangan batu bara (16 persen). Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 47 persen dari Rp11,3 triliun pada 2019 menjadi Rp6,0 triliun.

Rendahnya harga batu bara membuat para produsen batu bara pelanggan PAMA melakukan revisi produksi. PAMA—kontributor terbesar kinerja United Tractors—membukukan pendapatan bersih Rp29,2 triliun, turun 26% dari Rp39,3 triliun pada 2019. Volume pemindahan tanah turun 17 persen dari 988,9 juta bank cubic metres (bcm) pada 2019 menjadi 825,0 juta bcm, dan produksi batu bara turun 13% dari 131,2 juta ton menjadi 114,6 juta ton.

Namun, situasi mulai berubah per kuartal dua 2021. Karenanya, performa United Tractors pada paruh pertama tahun ini pun jauh lebih baik ketimbang periode sama tahun sebelumnya. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp37,3 triliun atau naik 12% dari Rp33,2 triliun pada periode sama 2020. Seiring peningkatan pendapatan bersih, laba bersih meningkat 11% menjadi Rp4,5 triliun dari Rp4,1 triliun pada semester pertama 2020. Kontraktor penambangan masih jadi jawara dengan kontribusi 41 persen terhadap kinerja tersebut.

"Kita dalam bisnis nggak boleh cheating, dan harus win-win. Tidak mesti posisi kita kuat harus gencet yang lemah. Itu biasanya nggak diridhoi. Saya pikir di tempat saya—di PAMA dan UT—semua bisa menjalankan itu dengan baik," ujarnya.


Pada lapis permukaan, Frans Xaverius Laksana Kesuma tampak pas sebagai pemuka gereja atau ahli teologi. Parasnya—dengan warna rambut serupa cecabang pinus dalam balutan salju Desember—memacakkan ketenangan seorang pencari jalan spiritual. 

Lebih ke kedalaman, dia terampil memainkan senar gitar. “Beliau dapat memainkan gitar klasik maupun elektrik, dengan genre musik yang pernah saya tahu didengarkan beliau adalah jazz, classic rock, folk, pop akustik”—dan bahkan progressive rock, tulis Sara Kirsti Loebis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk., dalam surat elektronik kepada Fortune Indonesia. Di antara grup favorit Frans adalah Electric Light Orchestra, yang kesohor dengan tembang Mr. Blue Sky, serta The Alan Parsons Project dengan nomor Eye in the Sky dan Time.

Pun demikian, Frans Kesuma—begitu arek Suroboyo kelahiran 1962 itu dikenal—tentu bukan sebatas pemetik gitar atau pemanjat tebing. Ia pasti unggul sebagai pemimpin karena menjadi nakhoda salah satu kontraktor penambangan terbesar dunia, atau distributor peralatan berat terkemuka di Indonesia. Apalagi, dia telah menjadi Presiden Direktur PT Pamapersada Nusantara (PAMA) sejak 2013 dan Presiden Direktur PT United Tractors Tbk. sejak 2019. 

Kebetulan, ketika posisi puncak itu dia tempati, industri yang menaungi perseroan sedang menghadapi—atau bahkan menyongsong—krisis. Sungguh suatu momentum prima untuk menguji mutu kepemimpinan. Seperti banyak perusahaan lain, United Tractors (UT) kesulitan mengungguli daya usik virus corona yang tinggi.

Pada 2020, perusahaan menangguk pendapatan bersih Rp60,3 triliun, turun 29 persen dari Rp84,4 triliun pada 2019. Dari jumlah itu, tiga besar teratas penyumbangnya adalah kontraktor penambangan (48 persen), mesin konstruksi (22 persen), dan pertambangan batu bara (16 persen). Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 47 persen dari Rp11,3 triliun pada 2019 menjadi Rp6,0 triliun.

Rendahnya harga batu bara membuat para produsen batu bara pelanggan PAMA melakukan revisi produksi. PAMA—kontributor terbesar kinerja United Tractors—membukukan pendapatan bersih Rp29,2 triliun, turun 26% dari Rp39,3 triliun pada 2019. Volume pemindahan tanah turun 17 persen dari 988,9 juta bank cubic metres (bcm) pada 2019 menjadi 825,0 juta bcm, dan produksi batu bara turun 13% dari 131,2 juta ton menjadi 114,6 juta ton.

Namun, situasi mulai berubah per kuartal dua 2021. Karenanya, performa United Tractors pada paruh pertama tahun ini pun jauh lebih baik ketimbang periode sama tahun sebelumnya. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp37,3 triliun atau naik 12% dari Rp33,2 triliun pada periode sama 2020. Seiring peningkatan pendapatan bersih, laba bersih meningkat 11% menjadi Rp4,5 triliun dari Rp4,1 triliun pada semester pertama 2020. Kontraktor penambangan masih jadi jawara dengan kontribusi 41 persen terhadap kinerja tersebut.

"Kita dalam bisnis nggak boleh cheating, dan harus win-win. Tidak mesti posisi kita kuat harus gencet yang lemah. Itu biasanya nggak diridhoi. Saya pikir di tempat saya—di PAMA dan UT—semua bisa menjalankan itu dengan baik," ujarnya.


Pada lapis permukaan, Frans Xaverius Laksana Kesuma tampak pas sebagai pemuka gereja atau ahli teologi. Parasnya—dengan warna rambut serupa cecabang pinus dalam balutan salju Desember—memacakkan ketenangan seorang pencari jalan spiritual. 

Lebih ke kedalaman, dia terampil memainkan senar gitar. “Beliau dapat memainkan gitar klasik maupun elektrik, dengan genre musik yang pernah saya tahu didengarkan beliau adalah jazz, classic rock, folk, pop akustik”—dan bahkan progressive rock, tulis Sara Kirsti Loebis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk., dalam surat elektronik kepada Fortune Indonesia. Di antara grup favorit Frans adalah Electric Light Orchestra, yang kesohor dengan tembang Mr. Blue Sky, serta The Alan Parsons Project dengan nomor Eye in the Sky dan Time.

Pun demikian, Frans Kesuma—begitu arek Suroboyo kelahiran 1962 itu dikenal—tentu bukan sebatas pemetik gitar atau pemanjat tebing. Ia pasti unggul sebagai pemimpin karena menjadi nakhoda salah satu kontraktor penambangan terbesar dunia, atau distributor peralatan berat terkemuka di Indonesia. Apalagi, dia telah menjadi Presiden Direktur PT Pamapersada Nusantara (PAMA) sejak 2013 dan Presiden Direktur PT United Tractors Tbk. sejak 2019. 

Kebetulan, ketika posisi puncak itu dia tempati, industri yang menaungi perseroan sedang menghadapi—atau bahkan menyongsong—krisis. Sungguh suatu momentum prima untuk menguji mutu kepemimpinan. Seperti banyak perusahaan lain, United Tractors (UT) kesulitan mengungguli daya usik virus corona yang tinggi.

Pada 2020, perusahaan menangguk pendapatan bersih Rp60,3 triliun, turun 29 persen dari Rp84,4 triliun pada 2019. Dari jumlah itu, tiga besar teratas penyumbangnya adalah kontraktor penambangan (48 persen), mesin konstruksi (22 persen), dan pertambangan batu bara (16 persen). Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 47 persen dari Rp11,3 triliun pada 2019 menjadi Rp6,0 triliun.

Rendahnya harga batu bara membuat para produsen batu bara pelanggan PAMA melakukan revisi produksi. PAMA—kontributor terbesar kinerja United Tractors—membukukan pendapatan bersih Rp29,2 triliun, turun 26% dari Rp39,3 triliun pada 2019. Volume pemindahan tanah turun 17 persen dari 988,9 juta bank cubic metres (bcm) pada 2019 menjadi 825,0 juta bcm, dan produksi batu bara turun 13% dari 131,2 juta ton menjadi 114,6 juta ton.

Namun, situasi mulai berubah per kuartal dua 2021. Karenanya, performa United Tractors pada paruh pertama tahun ini pun jauh lebih baik ketimbang periode sama tahun sebelumnya. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp37,3 triliun atau naik 12% dari Rp33,2 triliun pada periode sama 2020. Seiring peningkatan pendapatan bersih, laba bersih meningkat 11% menjadi Rp4,5 triliun dari Rp4,1 triliun pada semester pertama 2020. Kontraktor penambangan masih jadi jawara dengan kontribusi 41 persen terhadap kinerja tersebut.

"Kita dalam bisnis nggak boleh cheating, dan harus win-win. Tidak mesti posisi kita kuat harus gencet yang lemah. Itu biasanya nggak diridhoi. Saya pikir di tempat saya—di PAMA dan UT—semua bisa menjalankan itu dengan baik," ujarnya.


Quick Fact

Quick Fact

Quick Fact

Frans Kesuma

Frans Kesuma

Education:

Education:

Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan

Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan

Quotes:

Quotes:

-

-