back to list

back to list

Profile

Profile

Profile

Hans Gunadi

Hans Gunadi

Hans Gunadi

Direktur Utama Nusantara Sejahtera Raya

Direktur Utama Nusantara Sejahtera Raya

Direktur Utama Nusantara Sejahtera Raya

Cinema XXI memutuskan untuk melantai di bursa efek pada Agustus 2023. Rupanya tak mudah berstatus “terbuka” setelah tiga dasawarsa beroperasi sebagai perusahaan keluarga. Cinema XXI sebenarnya masih bisa terus beroperasi walau bertahan menjadi perusahaan tertutup. Namun, saat itu jaringan-jaringan bioskop besar di dunia dengan lebih dari 1.000 layar, umumnya berstatus perusahaan terbuka atau ditopang investor besar. Pada 2015, jumlah layar Cinema XXI masih sekitar 800. Tapi, kelak di masa depan, Cinema XXI juga berambisi punya layar lebih dari 1.000–yang saat ini sudah terlampaui.

Dus, dengan pertimbangan tersebut, akhirnya para pendiri dan petinggi perusahaan berembuk. “Saat itu diputuskan, tidak bisa kalau sudah seribu layar kita beroperasi seperti bisnis keluarga seperti ini; belum punya buku yang proper, audit, dan sebagainya,” ujar Hans.

Perlu delapan tahun melalui jalan berliku sampai perusahaan merealisasikan rencana itu. Semua diawali dengan diskusi dengan berbagai private equity (PE) pada 2016. Setelah diskusi panjang, dipilihlah firma investasi jangka panjang global asal Singapura, GIC, sebagai mitra. Sejak saat itu, Cinema XXI memanaskan mesin untuk menuju pasar modal. 

“Jungkir baliklah tiga tahun tersebut. Tapi kelihatan hasilnya, angka kami dari 2016, 2017, 2018, 2019 naik terus,” katanya.

Titik kulminasi persiapan IPO Cinema XXI terjadi pada 2019. Saat itu, perusahaan mencatatkan sekitar 112 juta penonton—artinya 1 dari 2 orang Indonesia setidaknya menonton satu kali tiap tahunnya di bioskop mereka. Pada tahun itu, perusahaan pun mencetak pendapatan Rp6,89 triliun dan laba Rp1,27 triliun. Saat itu juga, Cinema XXI berniat masuk bursa pada 2021. Sesuai dengan merek bioskopnya, Cinema 21.

Sayang, rencana dan perbaikan yang sudah berjalan dengan lancar harus terhenti seketika. Pada 2020, pandemi meluluhlantakkan berbagai sektor bisnis. Bioskop salah satunya. Setelah lebih dari tiga dasawarsa, untuk pertama kalinya Cinema XXI menghentikan kegiatan operasional seluruh bioskop lebih dari 9 bulan (2020) dan 2,5 bulan (2021). Mimpi untuk masuk ke bursa pun tertunda.

Cinema XXI pun fokus untuk perlahan bangkit dari keterpurukan akibat gulungan ombak pandemi. Berbagai penyesuaian dan inovasi dilakukan. Akhirnya, pada 23 Mei 2022, bioskop diizinkan beroperasi dengan kapasitas 100 persen lagi. Hasilnya, walau baru bisa berbisnis secara penuh mulai pertengahan tahun, Cinema XXI berhasil mencetak pendapatan senilai Rp4,4 triliun pada 2022, dengan margin laba bersih 11,5 persen dan margin EBITDA 32,6 persen. Penontonnya bahkan berjumlah 67 juta pada 2022, naik dari 22 juta pada 2021.

Tahun berganti. Setelah diskusi dengan para pemegang saham dan GIC, akhirnya Cinema XXI mantap untuk menggelar IPO pada 2023, sejalan dengan laba yang cukup baik dan sudah bertumbuh lagi.


Cinema XXI memutuskan untuk melantai di bursa efek pada Agustus 2023. Rupanya tak mudah berstatus “terbuka” setelah tiga dasawarsa beroperasi sebagai perusahaan keluarga. Cinema XXI sebenarnya masih bisa terus beroperasi walau bertahan menjadi perusahaan tertutup. Namun, saat itu jaringan-jaringan bioskop besar di dunia dengan lebih dari 1.000 layar, umumnya berstatus perusahaan terbuka atau ditopang investor besar. Pada 2015, jumlah layar Cinema XXI masih sekitar 800. Tapi, kelak di masa depan, Cinema XXI juga berambisi punya layar lebih dari 1.000–yang saat ini sudah terlampaui.

Dus, dengan pertimbangan tersebut, akhirnya para pendiri dan petinggi perusahaan berembuk. “Saat itu diputuskan, tidak bisa kalau sudah seribu layar kita beroperasi seperti bisnis keluarga seperti ini; belum punya buku yang proper, audit, dan sebagainya,” ujar Hans.

Perlu delapan tahun melalui jalan berliku sampai perusahaan merealisasikan rencana itu. Semua diawali dengan diskusi dengan berbagai private equity (PE) pada 2016. Setelah diskusi panjang, dipilihlah firma investasi jangka panjang global asal Singapura, GIC, sebagai mitra. Sejak saat itu, Cinema XXI memanaskan mesin untuk menuju pasar modal. 

“Jungkir baliklah tiga tahun tersebut. Tapi kelihatan hasilnya, angka kami dari 2016, 2017, 2018, 2019 naik terus,” katanya.

Titik kulminasi persiapan IPO Cinema XXI terjadi pada 2019. Saat itu, perusahaan mencatatkan sekitar 112 juta penonton—artinya 1 dari 2 orang Indonesia setidaknya menonton satu kali tiap tahunnya di bioskop mereka. Pada tahun itu, perusahaan pun mencetak pendapatan Rp6,89 triliun dan laba Rp1,27 triliun. Saat itu juga, Cinema XXI berniat masuk bursa pada 2021. Sesuai dengan merek bioskopnya, Cinema 21.

Sayang, rencana dan perbaikan yang sudah berjalan dengan lancar harus terhenti seketika. Pada 2020, pandemi meluluhlantakkan berbagai sektor bisnis. Bioskop salah satunya. Setelah lebih dari tiga dasawarsa, untuk pertama kalinya Cinema XXI menghentikan kegiatan operasional seluruh bioskop lebih dari 9 bulan (2020) dan 2,5 bulan (2021). Mimpi untuk masuk ke bursa pun tertunda.

Cinema XXI pun fokus untuk perlahan bangkit dari keterpurukan akibat gulungan ombak pandemi. Berbagai penyesuaian dan inovasi dilakukan. Akhirnya, pada 23 Mei 2022, bioskop diizinkan beroperasi dengan kapasitas 100 persen lagi. Hasilnya, walau baru bisa berbisnis secara penuh mulai pertengahan tahun, Cinema XXI berhasil mencetak pendapatan senilai Rp4,4 triliun pada 2022, dengan margin laba bersih 11,5 persen dan margin EBITDA 32,6 persen. Penontonnya bahkan berjumlah 67 juta pada 2022, naik dari 22 juta pada 2021.

Tahun berganti. Setelah diskusi dengan para pemegang saham dan GIC, akhirnya Cinema XXI mantap untuk menggelar IPO pada 2023, sejalan dengan laba yang cukup baik dan sudah bertumbuh lagi.


Cinema XXI memutuskan untuk melantai di bursa efek pada Agustus 2023. Rupanya tak mudah berstatus “terbuka” setelah tiga dasawarsa beroperasi sebagai perusahaan keluarga. Cinema XXI sebenarnya masih bisa terus beroperasi walau bertahan menjadi perusahaan tertutup. Namun, saat itu jaringan-jaringan bioskop besar di dunia dengan lebih dari 1.000 layar, umumnya berstatus perusahaan terbuka atau ditopang investor besar. Pada 2015, jumlah layar Cinema XXI masih sekitar 800. Tapi, kelak di masa depan, Cinema XXI juga berambisi punya layar lebih dari 1.000–yang saat ini sudah terlampaui.

Dus, dengan pertimbangan tersebut, akhirnya para pendiri dan petinggi perusahaan berembuk. “Saat itu diputuskan, tidak bisa kalau sudah seribu layar kita beroperasi seperti bisnis keluarga seperti ini; belum punya buku yang proper, audit, dan sebagainya,” ujar Hans.

Perlu delapan tahun melalui jalan berliku sampai perusahaan merealisasikan rencana itu. Semua diawali dengan diskusi dengan berbagai private equity (PE) pada 2016. Setelah diskusi panjang, dipilihlah firma investasi jangka panjang global asal Singapura, GIC, sebagai mitra. Sejak saat itu, Cinema XXI memanaskan mesin untuk menuju pasar modal. 

“Jungkir baliklah tiga tahun tersebut. Tapi kelihatan hasilnya, angka kami dari 2016, 2017, 2018, 2019 naik terus,” katanya.

Titik kulminasi persiapan IPO Cinema XXI terjadi pada 2019. Saat itu, perusahaan mencatatkan sekitar 112 juta penonton—artinya 1 dari 2 orang Indonesia setidaknya menonton satu kali tiap tahunnya di bioskop mereka. Pada tahun itu, perusahaan pun mencetak pendapatan Rp6,89 triliun dan laba Rp1,27 triliun. Saat itu juga, Cinema XXI berniat masuk bursa pada 2021. Sesuai dengan merek bioskopnya, Cinema 21.

Sayang, rencana dan perbaikan yang sudah berjalan dengan lancar harus terhenti seketika. Pada 2020, pandemi meluluhlantakkan berbagai sektor bisnis. Bioskop salah satunya. Setelah lebih dari tiga dasawarsa, untuk pertama kalinya Cinema XXI menghentikan kegiatan operasional seluruh bioskop lebih dari 9 bulan (2020) dan 2,5 bulan (2021). Mimpi untuk masuk ke bursa pun tertunda.

Cinema XXI pun fokus untuk perlahan bangkit dari keterpurukan akibat gulungan ombak pandemi. Berbagai penyesuaian dan inovasi dilakukan. Akhirnya, pada 23 Mei 2022, bioskop diizinkan beroperasi dengan kapasitas 100 persen lagi. Hasilnya, walau baru bisa berbisnis secara penuh mulai pertengahan tahun, Cinema XXI berhasil mencetak pendapatan senilai Rp4,4 triliun pada 2022, dengan margin laba bersih 11,5 persen dan margin EBITDA 32,6 persen. Penontonnya bahkan berjumlah 67 juta pada 2022, naik dari 22 juta pada 2021.

Tahun berganti. Setelah diskusi dengan para pemegang saham dan GIC, akhirnya Cinema XXI mantap untuk menggelar IPO pada 2023, sejalan dengan laba yang cukup baik dan sudah bertumbuh lagi.


Quick Fact

Quick Fact

Quick Fact

Hans Gunadi

Hans Gunadi

Education:

Education:

-

-

Quotes:

Quotes:

-

-